Aku Akrab Dengan Suara Gamelan Sejak Kecil
Personil Kiai Kanjeng |
Keluarga kami membebaskan kami, anak-anaknya, menggunakan bahasa apapun dirumah, asalkan sopan dan bukan bahasa asing. Aku dan adikku kebanyakan menggunakan Bahasa Indonesia terkadang bercampur bahasa Jawa. Sopan santun dan tata krama kejawaan selalu diajarkan oleh ayah kepada kami.
Waktu ku kecil ayah sering mengajakku melihat pertunjukkan wayang kulit, tapi sayang sekali aku tak pernah mengerti dan bukannya kritis bertanya, aku malah tertidur dipangkuan ayah. Kadang ayah mengajakku untuk melihat pertunjukkan campursari, yang masih banyak dipanggungkan dimasa kecilku dulu. Ayah suka sekali mendengarkan lagu-lagu Jawa di radio, bahkan ayah punya satu kaset VCD lagu campur sari yang sering aku putar.
Saat SMP aku berhasil masuk ke salah satu SMP besar di Jember. SMPN 1 Jember. Disana aku mulai dekat dengan gamelan. Di SMPN 1 Jember ada ekstrakulikuler seni musik. Tak hanya mengajarkan tentang musik modern, tapi Pak Gik (guru seni musik kami) mengajarkan seni musik tradisional, yang memang ada satu set gamelan disana. Setiap minggunya ada latihan bareng Pak Gik diluar jam sekolah. Saat itu aku masih kelas 1 saat pertama kali bergabung pada ekstra kulikuler ini. Sempat berlatih intensif untuk acara perpisahan kelas 3 dan aku didaulat memegang gong dan 'kecrekan'. Aku tak bisa memilih alat musik lain, karena aku terlambat saat pemilihan alat musik.
Latihan berjalan lancar. Bahkan gladi resik pun kami tampil didepan seluruh siswa SMPN 1 Jember. Percaya diriku masih tinggi saat itu. Tapi saat hari H, demam panggung malah menghantuiku. Aku takut, aku tak berani keluar kelas. Acara berlangsung aku seharian berada dikelas sendirian, aku tak peduli dengan cerita sekolahku yang angker. Yang penting aku tak terlihat oleh teman-temanku, terutama oleh Pak Gik. Aku lebih takut bertemu mereka ketimbang mendengar cerita sekolah angker. Untungnya Pak Gik bisa meng-handle semua itu. Sejak saat itu aku tak pernah ikut lagi ekstra kulikuler musik, bahkan saat pelajaran Seni Musik, aku lebih sering tertunduk malu terhadap Pak Gik.
Aku suka suara-suara gamelan, tapi bukan suara gamelan murni, bukan suara gamelan pelog atau selendro. Aku suka instrumen gamelan yang dicampur dengan instrumen musik yang lain, aliran musik yang lain. Sudah ku ceritakan bukan betapa bergairahnya darahku saat pertama kali melihat musik Kiai Kanjeng dengan gamelannya pada 5 November 2013 (ceritanya: Pagelaran Kyai Kanjeng Pada Festival Tegal Boto 2013 Universitas Jember). Menggabungkan gamelan dan alat musik lainnya dengan sangat apik dan epic. Mereka menggubah lagu-lagu dengan arangement yang ciamik.
Tiga hari lalu, seperti biasa merubah wujud menjadi walker dan blusukan di blog milik teman-teman blogger. Kali ini ada kabar bahagia dari salah seorang teman blogger di Warung Blogger, Pak Edi Padmono, yang tengah berbahagia karena dikaruani putra kelima yang beliau beri nama Zuhdi Daiyaan Najamuddin Adzakhi. Nama yang indah, semoga kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, rendah hati dan taat beribadah, sesuai dengan arti namanya yang juga indah. Yang membuatku tertarik adalah sebuah lagu yang tertempel di bagian sidebar blog Menuju Mahdani ini. Diamond. Sebelumnya aku tak pernah tertarik dengan lagu yang dibawakan oleh Rihana ini, apa lagi suka. Tapi yang membuatku tertarik adalah lagu ini dibawakan dengan musik gamelan. Aku tak tau ini gamelan Jawa, Sunda, atau Bali, tapi yang jelas ini GAMELAN!
Tulisan ini seperti meracau tidak jelas tak tentu arah. Sebenarnya tulisan ini bertujuan menceritakan betapa aku suka gamelan, tapi sepertinya tak tersampaikan dengan benar dengan bahasa yang berantakan seperti ini. Tapi yang jelas... I LOVE GAMELAN. Lain waktu akan kuceritakan lebih detail tentang Gamelan, kalau saja aku berhasil kembali mempelajari gamelan.
gue suka sama lantunan gamelan kak:D
BalasHapusberkesan gmna gitu...
Wah samaan dong #toss
Hapusgue juga suka ndengerin Kyai Kanjeng nyanyi :P
BalasHapusKiai Kanjeng emang asik...
Hapuswah. kalau gua kurang ngerti gamelan sob. gak lahir dan besar di jawa soalnya. hehe
BalasHapustapi gua tetap suka budaya indonesia
Budaya Indonesia selalu kereeenn...
Hapuswah, bisa dong diajarin main gamelan :)
BalasHapusLha wong belum bisa kok minta diajarin @_@
Hapusiya suka banget sama suara gamelan.. khas banget.. ditambah lagi gamelan termasuk alat musik Indonesia yang mendunia banget kan.. walau kesannya malah para bule yang lebih excited mempelajari gamelan..
BalasHapusMemang sekarang ini kelihatannya banyak sekali bule yang sedang mempelajari gamelan.
HapusPokok e nyenengkeh he he : http://www.youtube.com/watch?v=Rad_SEC2idA
BalasHapusYoyoy...
HapusWe Love Gamelan.. :D
BalasHapusNice Post!
I do..
HapusKeren gilak! Bikin adem di hati dan telinga :3
BalasHapusKeren doang nggak pake gila hahaha :D
HapusSaya memang orangnya keren
*Halah hahaha
Kereeeen! Pas buka langsung kaget karena lagunya kesetel!! Wuidiiih
BalasHapusGue selalu iri dengan orang yang seperti anda. Kebetulan telahir di daerah yang kental budaya. Pengen jadi anak daerah mana pun asal bukan Jakarta. Heuheuheu
Ps: kenapa yah orang jember banyak yang punya campuran dengan madura? Temen gue juga gitu soalnya. Salam kenal